Beberapa minggu terakhir, keluhan batuk, pilek, demam ringan, dan tubuh meriang mulai ramai dibicarakan. Data layanan kesehatan di beberapa daerah, termasuk DKI Jakarta, mencatat adanya lonjakan kasus flu dan infeksi pernapasan.
Kondisi cuaca tak menentu dan aktivitas yang padat membuat daya tahan tubuh semakin mudah turun.
Tidak heran, banyak orang langsung mengandalkan suplemen vitamin C sebagai tameng utama untuk melawan flu.
Tapi sebenarnya, apakah tubuh benar-benar membutuhkan suplemen vitamin C? Atau cukup dari makanan saja?
Agar tidak salah langkah, yuk pahami fakta ilmiahnya!
Mengapa Vitamin C Penting Saat Risiko Flu Meningkat?
Vitamin C adalah salah satu nutrisi paling vital bagi sistem imun. Tubuh membutuhkan vitamin C untuk:
- membantu sel imun melawan virus dan bakteri
- mempercepat pemulihan saat sakit
- menjaga elastisitas pembuluh darah
- meningkatkan penyerapan zat besi
- bertindak sebagai antioksidan melawan radikal bebas
Saat cuaca tidak menentu dan paparan virus meningkat, kebutuhan tubuh akan antioksidan dan nutrisi pendukung imun juga meningkat.
Namun, tubuh tidak bisa memproduksi vitamin C sendiri, sehingga harus dipenuhi dari makanan atau suplemen.
Berapa Kebutuhan Vitamin C Harian?

Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kemenkes:
- Perempuan Dewasa: 75 mg
- Laki-laki Dewasa: 90 mg
- Ibu Hamil & Menyusui: lebih tinggi karena kebutuhan antioksidan meningkat
Sebenarnya, angka ini sangat mudah dipenuhi hanya dari buah dan sayuran.
Contohnya berdasarkan TKPI:
- 100 g pepaya → 104 mg vitamin C
- 100 g jambu biji → 87 mg
- 100 g jeruk → 49 mg
Artinya, satu buah pepaya ukuran sedang saja sudah cukup memenuhi kebutuhan vitamin C harian.
Lalu, Kapan Kita Benar-Benar Butuh Suplemen Vitamin C?
Suplemen tidak selalu wajib, tetapi ada kondisi ketika tubuh membutuhkan tambahan vitamin C.
1. Saat Pola Makan Buruk dan Minim Buah-Sayur
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan:
96,7% penduduk Indonesia kurang makan buah dan sayur.
Ini artinya sebagian besar orang tidak memenuhi kebutuhan vitamin C alami setiap hari. Pada kelompok ini, suplemen bisa menjadi solusi praktis untuk mengisi kekurangan.
2. Saat Sedang Flu atau Masa Pemulihan
Penyakit atau infeksi membuat tubuh membutuhkan lebih banyak vitamin C untuk:
- membentuk kolagen
- mempercepat penyembuhan jaringan
- meningkatkan aktivitas sel imun
Studi dari Antioxidants (2022) menunjukkan suplementasi vitamin C mempercepat pemulihan pada pasien dengan infeksi ringan hingga sedang.
3. Saat Mengalami Stres Tinggi atau Kurang Tidur
Stres fisik maupun emosional meningkatkan produksi hormon stres yang dapat menurunkan kadar vitamin C dalam tubuh.
Orang yang sering begadang atau bekerja dengan tekanan tinggi cenderung memiliki kebutuhan vitamin C lebih besar.
4. Pada Lansia
Penyerapan vitamin C menurun seiring usia. Ditambah stres oksidatif yang lebih tinggi dan nafsu makan yang cenderung menurun, lansia sering memerlukan suplemen untuk menjaga daya tahan tubuh.
5. Perokok & Orang yang Terpapar Polusi Berat
Asap rokok dan polusi meningkatkan radikal bebas dalam tubuh. Karena vitamin C bertindak sebagai antioksidan, kebutuhannya otomatis lebih tinggi.
Suplemen dapat membantu menjaga kadar vitamin C tetap stabil.
Apakah Vitamin C dari Sumber Alami Sudah Cukup?

Buat kamu yang punya pola makan teratur dan rutin mengonsumsi 2–3 porsi buah serta sayur setiap hari, kebutuhan vitamin C sebenarnya sudah aman tercukupi tanpa perlu suplemen tambahan.
Bahkan, vitamin C alami dari makanan jauh lebih unggul karena datang dalam “paket lengkap” bersama nutrisi lain seperti:
- serat, yang membantu penyerapan nutrisi dan menjaga pencernaan
- air, yang membantu hidrasi dan transportasi vitamin
- flavonoid, yang meningkatkan efektivitas vitamin C
- antioksidan alami, yang bekerja sama melindungi sel tubuh dari radikal bebas
Jadi, tubuh tidak hanya mendapatkan vitamin C, tetapi juga mendapat dukungan nutrisi lain yang membuat sistem imun bekerja lebih optimal.
Namun, realitanya tidak semua orang bisa makan teratur. Aktivitas padat, sering makan di luar, jarang stok buah di rumah, sampai gaya hidup serba cepat membuat banyak orang kekurangan asupan vitamin C secara tidak sadar.
Di kondisi seperti inilah suplemen menjadi “backup plan” yang masuk akal, terutama saat risiko flu meningkat.
Bagaimana dengan Risiko Kelebihan Vitamin C? Aman atau Bahaya?
Kabar baiknya, vitamin C tergolong aman karena termasuk vitamin larut air – kadar berlebih biasanya dibuang melalui urin. Menurut National Institutes of Health (NIH):
- Batas aman konsumsi vitamin C: 2.000 mg per hari
- Dosis suplemen vitamin C yang umum di Indonesia: 500–1.000 mg
Artinya, jika kamu minum sesuai aturan, suplemen vitamin C tidak akan merusak ginjal.
Mitos bahwa vitamin C tinggi menyebabkan batu ginjal tidak berlaku bagi orang sehat yang tidak memiliki riwayat penyakit ginjal sebelumnya – dan tetap minum air cukup setiap hari.
Suplemen Bukan Pengganti Makanan
Meskipun praktis dan bermanfaat, suplemen vitamin C tidak boleh menggantikan buah dan sayur.
Tubuh membutuhkan nutrisi kompleks yang hanya bisa didapatkan dari makanan segar, bukan dari tablet atau kapsul.
Suplemen berfungsi sebagai: pelengkap, bukan pengganti.
Makan buah → untuk kebutuhan harian.
Suplemen → untuk membantu saat kebutuhan meningkat atau pola makan tidak ideal.
Kombinasi keduanya, jika digunakan dengan bijak, membantu menjaga daya tahan tubuh tetap kuat tanpa bergantung pada suplemen setiap hari.
Perlukah Suplemen Vitamin C Saat Flu Meningkat?
- Perlu, jika kamu jarang makan buah-sayur, sedang sakit, sedang stres, lansia, atau sedang masa pemulihan.
- Tidak wajib, jika pola makanmu sudah sehat dan penuh buah-sayuran.
- Aman, selama dosisnya sesuai aturan dan tidak berlebihan.
- Terbaik, tetap utamakan sumber alami dari buah dan sayuran segar.
Di tengah meningkatnya kasus flu, menjaga tubuh dengan nutrisi cukup, tidur berkualitas, hidrasi cukup, dan manajemen stres adalah kunci daya tahan tubuh yang kuat.












