Belakangan ini, linimasa media sosial sering dipenuhi ajakan “hindari buah kalau tidak mau kena diabetes”. Narasi seperti ini tentu membuat banyak orang cemas.
Bahkan sejumlah orang jadi ragu untuk makan buah – sesuatu yang seharusnya justru wajib hadir dalam menu harian kita.
Padahal, Indonesia sendiri punya masalah serius terkait konsumsi buah. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat bahwa 96,7% masyarakat belum memenuhi anjuran konsumsi sayur dan buah. Angka ini sangat jauh dari rekomendasi dua hingga tiga porsi buah per hari.
Jadi, masalah kita sebenarnya bukan “kebanyakan buah”, tetapi sangat kekurangan buah. Dan ketika muncul mitos bahwa buah memicu diabetes, masyarakat makin menjauh dari sumber pangan yang justru mendukung kesehatan.
Nah, supaya tidak mudah termakan informasi yang tidak akurat, yuk kita kupas tuntas apakah benar buah bisa memicu diabetes – atau justru sebaliknya.
Mengapa Buah Tidak Bisa Dipukul Rata dengan Gula Tambahan?
Hal yang sering membuat orang salah paham adalah rasa manis pada buah. Banyak yang mengira buah sama saja dengan gula pasir, padahal keduanya sangat berbeda.
Gula di dalam buah berada dalam “matriks alami” bersama:
- Serat
- Air
- Vitamin
- Mineral
- Antioksidan
- Fitonutrien
Karena ada serat dan air, penyerapan gula buah berlangsung jauh lebih lambat dibandingkan gula tambahan pada:
- Teh manis
- Boba
- Minuman bersoda
- Kue dan roti manis
- Es krim
- Susu kental manis
Jadi, meskipun buah manis, dampaknya pada gula darah tidak sama seperti minuman manis.
1. Buah Justru Membantu Mengontrol Gula Darah

Buah kaya akan serat larut (soluble fiber) yang membantu memperlambat penyerapan glukosa. Ini membuat gula darah naik lebih stabil dan tidak “meledak” seperti saat mengonsumsi gula tambahan.
Manfaat serat di dalam buah:
- Menstabilkan kadar gula darah
- Mencegah lonjakan gula mendadak
- Menjaga rasa kenyang lebih lama
- Mengurangi keinginan makan berlebihan
Bahkan bagi orang yang sedang diet atau menjaga berat badan, menambah buah justru mendukung kontrol gula darah harian.
2. Buah Mencegah Resistensi Insulin – Pemicu Diabetes Sesungguhnya
Resistensi insulin adalah kondisi saat tubuh tidak merespons insulin dengan baik. Ini adalah akar dari diabetes tipe 2.
Buah mengandung antioksidan alami yang dapat:
- Mengurangi stres oksidatif
- Melindungi sel tubuh dari kerusakan
- Membantu insulin bekerja lebih efektif
- Menurunkan risiko resistensi insulin
Menurut jurnal Antioxidants (2021):
Antioksidan dari buah-buahan berperan penting dalam memperbaiki fungsi metabolik dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Artinya, konsumsi buah justru melindungi tubuh dari risiko diabetes, bukan menyebabkannya.
3. Buah Membantu Metabolisme dan Mencegah Sindrom Metabolik
Buah kaya serat, air, dan micronutrient. Ketika dikonsumsi secara rutin (2–3 porsi per hari), buah membantu:
- Melancarkan sistem pencernaan
- Mengendalikan rasa lapar
- Menjaga kestabilan gula darah
- Memperbaiki metabolisme tubuh
Banyak penelitian menunjukkan konsumsi buah berhubungan dengan risiko lebih rendah terhadap sindrom metabolik, yaitu kondisi yang sering menjadi pintu masuk diabetes tipe 2.
Ketika orang takut makan buah, mereka justru kehilangan nutrisi penting yang sangat dibutuhkan tubuh untuk mengurangi risiko penyakit metabolik.
Mengapa Gula Buah Aman? Ini Penjelasan Sainsnya
Buah mengandung fruktosa alami yang berbeda dengan fruktosa olahan pada sirup gula tinggi fruktosa (HFCS) yang sering ditemukan pada makanan kemasan.
Pada buah, fruktosa alami terserap lebih lambat karena:
- Ada serat yang memperlambat penyerapan
- Ada air yang menurunkan densitas gula
- Ada vitamin dan mineral yang ikut berperan dalam metabolisme
- Ada fitonutrien yang melindungi sel
Inilah mengapa buah tidak meningkatkan gula darah secepat:
- Soft drink
- Jus kemasan
- Teh manis
- Minuman energi
- Es kopi susu manis
- Cemilan tinggi gula
Gula alami buah aman dikonsumsi dalam jumlah wajar untuk orang sehat.
Bagaimana dengan Orang yang Sudah Mengidap Diabetes?

Banyak pengidap diabetes takut makan buah. Padahal, dokter dan ahli gizi tetap menganjurkan konsumsi buah, asalkan memenuhi tiga syarat:
1. Pilih buah dengan indeks glikemik rendah:
- Apel
- Pir
- Pepaya
- Alpukat
- Jambu biji
- Stroberi
- Kiwi
2. Makan dalam porsi terukur, misalnya:
- 1 buah apel kecil, atau
- 1 potong pepaya, atau
- 1 buah pir kecil
3. Konsumsi bersama makanan lain
Misalnya buah + yogurt, atau buah + kacang untuk memperlambat penyerapan gula.
Dengan cara ini, pengidap diabetes tetap dapat menikmati manfaat buah tanpa mengganggu kestabilan gula darah.
Buah Jadi Kambing Hitam, Padahal Faktor Penyebab Diabetes Jauh Lebih Kompleks
Menyalahkan buah sebagai pemicu diabetes sama sekali tidak tepat. Diabetes dipengaruhi oleh banyak faktor seperti:
- Berat badan berlebih
- Kekurangan aktivitas fisik
- Pola makan tinggi kalori dan tinggi gula tambahan
- Kebiasaan makan cepat saji
- Kurang tidur
- Stres kronis
- Faktor genetik
Jadi, menuduh buah sebagai penyebab diabetes hanya menutupi akar masalah yang sebenarnya: pola hidup yang tidak sehat.
Buah bukan penyebab diabetes. Justru buah:
- Membantu kontrol gula darah
- Mencegah resistensi insulin
- Menjaga metabolisme
- Menurunkan risiko sindrom metabolik
- Menyediakan vitamin, mineral, dan antioksidan penting
Jika seseorang menghindari buah karena takut diabetes, ia justru kehilangan salah satu sumber nutrisi terbaik yang dibutuhkan tubuh setiap hari.












